Jujur, saya hampir tidak jadi membuatnya.
Bukan karena tidak ada waktu. Bukan karena tidak tahu caranya. Tapi karena selama bertahun-tahun saya sudah terbiasa melakukan satu hal yang sangat merusak — membunuh mimpi saya sendiri, perlahan, demi terlihat realistis.
---
Saya menghabiskan 14 tahun sebagai software engineer. Dari sistem pertahanan untuk TNI Angkatan Laut, universitas di Belanda, sistem keuangan sekolah nasional yang dipakai 200 ribu lebih institusi, sampai startup climate fintech di Washington DC — semua remote, dari Bandung.
Dari luar, karir itu terlihat solid. Dan memang solid.
Tapi ada satu hal yang selama itu tidak pernah benar-benar hilang: perasaan bahwa saya berada di arena yang sedikit kurang tepat. Bukan salah. Bukan sia-sia. Tapi ada sesuatu yang tertahan. Jiwa pengusaha yang mengalir di darah, tapi tidak punya ruang untuk bergerak.
Saya tahu mimpi saya. Saya ingin membangun sesuatu. Bukan sekadar mengerjakan sesuatu milik orang lain.
Tapi saya terus menundanya. Menunggu waktu yang tepat. Menunggu kondisi yang lebih lapang. Menunggu sampai "siap."
---
Akhir 2025, saya kehilangan pekerjaan.
Dan anehnya — itu bukan titik terendah yang saya bayangkan.
Di awal 2026, justru di saat kondisi paling terbatas, saya sudah punya karyawan. Pertolongan datang dari arah yang tidak saya duga. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, saya merasa menjadi diri saya yang sesungguhnya.
Ternyata kondisi lapang yang selama ini saya tunggu — justru bisa jadi belenggu. Zona nyaman sebagai karyawan, gaji yang masuk setiap bulan, waktu yang "ada" tapi tidak pernah benar-benar dipakai — semua itu diam-diam mengekang.
Ketika semuanya hilang, saya malah menemukan diri saya.
---
Saya juga punya mimpi yang lebih besar dari sekadar freelancing.
Saya ingin membangun Picaloid Studios — studio animasi kelas dunia, dari Bandung. Bukan suatu hari nanti. Tapi dimulai sekarang, sedikit demi sedikit, sambil terus bergerak.
Waktu kecil, saya tumbuh menonton kartun-kartun Jepang. De Kickers dan banyak lainnya. Yang saya ingat bukan hanya ceritanya — tapi perasaan setelah menontonnya. Karakter-karakter itu berjuang untuk mimpi mereka. Dan entah bagaimana, itu menanamkan sesuatu dalam diri saya yang tidak pernah benar-benar pergi.
Saya ingin membuat sesuatu yang memberikan perasaan yang sama kepada orang lain.
---
Jadi kenapa channel YouTube ini? Kenapa blog ini?
Bukan untuk jadi YouTuber. Bukan untuk mengejar subscriber atau viral.
Saya membuat ini karena saya ingin terus bertumbuh — dan cara paling jujur untuk bertumbuh adalah dengan berbagi perjalanan yang sedang terjadi, bukan highlight reel yang sudah selesai.
Saya membuat ini karena saya percaya ada orang di luar sana yang sedang berada di persimpangan yang sama. Yang punya mimpi tapi terus menundanya. Yang merasa berada di arena yang sedikit kurang tepat. Yang menunggu kondisi yang tepat untuk menjadi diri sendiri.
Dan saya ingin bilang: kondisi itu tidak akan datang kalau kamu terus menunggunya.
Channel ini dan blog ini akan jadi tempat saya mendokumentasikan perjalanan itu — tentang freelance, tentang membangun bisnis, tentang mimpi, dan tentang menjadi diri sendiri sepenuhnya.
Tidak sempurna. Tidak selalu mulus. Tapi jujur.
Kalau kamu relate — selamat datang.
---
Freelance · Founder · Mimpi · Bertumbuh